Pada 19 November lalu bertempat di Ratu Convention Center Kota Jambi, Transparency International (TI) Indonesia bekerjasama dengan CLUA, WWF, AWGFF, dan Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Lingkungan (YLBHL) mengadakan kegiatan Workshop Multipihak Penerapan Best Management Practices (BMP) Oleh Pelaku Bisnis / Pemegang Konsesi Kehutanan di Provinsi Jambi.

“Kegiatan digagas karena melihat kondisi pengelolaan hutan yang belum ideal dan masih jauh dari harapan menuju pengelelolaan hutan lestari dan berkelanjutan, hal ini ditandai dengan masih adanya praktek korupsi di dalam sektor kehutunan sehingga dibutuhkan Best Management Practices yaitu proses penerapan management pengelolaan hutan yang berkelanjutan dan sesuai dengan standar yang ada. Workshop kali ini akan melihat apa-apa saja yang dibutuhkan dalam pengelolaan hutan yang lebih baik dan dalam prakteknya sejauh mana rumusan ini bisa diterapkan di kalangan bisnis sektor kehutanan.” ujar Rivan Prahasya, Koordinator Program Forestry TI Indonesia.

Dalam sambutannya, Kepala Dinas Kehutanan Provinsi Jambi ,Ir. Irmansyah Rachman mengatakan, “Kondisi potensi kehutanan Jambi saat ini : 2,1 juta Ha (42%) merupakan kawasan hutan, Jambi memiliki beberapa kawasan taman nasional diantaranya Taman Nasionak Kerinci Seblat, Taman Nasional Bukit 12, Taman Nasional Bukit 30 dan Taman Nasinal Berbak(700 ribu Ha Taman Nasional dan 200 ribu Ha Hutan Lindung), dan 1,3 juta Ha merupakan kawasan Hutan Produksi. Prinsipnya, pembangunan kawasan hutan produksi harus berwawasan lingkungan dan transparan serta sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku untuk mencegah potensi berkurangnya penerimaan negara (PNBP, PSHDR). Workshop kali ini diharapkan dapat membantu para pemegang konsesi atau pelaku bisnis dalam mengelola kawasan Hutan Produksi dan memudahkan melaksanakan kewajibanya terhadap negara”.

Workshop ini dihadiri peserta dari kalangan multipihak Propinsi Jambi yang terdiri dari Pemerintah Propinsi Jambi, kelompok masyarakat sipil, lembaga swadaya masyarakat, pelaku bisnis atau pemegang konsesi kehutanan, akademisi, dan media massa.
Hadir pula dalam workshop yang di fasilitasikan Rivan Prahasya, Karmila Parakasi, Manager Konvervasi PT. Royal Lestari Utama (Barito Group), Joko Sarjito, Koordinator Responsible Forest WWF, dan Wahyudi M. Tohari, Koordinator Economic Governance TI Indonesia. [dk]