Setelah dua pekan berturut-turut, tim examiner PLN Bersih yang terdiri dari Transparency International Indonesia (TII), PLN, serta juri independen, melakukan assesment terhadap 13 unit bisnis PLN yang menjadi pilot project PLN Bersih, PLN Distribusi Jawa Barat dan Banten (DJBB) dinilai sebagai unit dengan nilai tertinggi dalam hal implementasi program-program PLN Bersih. PLN DJBB dinilai cukup baik dalam merespon inisiatif PLN Bersih dalam durasi yang cukup singkat, bersama-sama unit-unit lain di bawahnya yang telah/sedang merealisasikan empat pilar PLN Bersih, yaitu Partisipasi, Integritas, Transparans, dan Akuntabilitas (PITA).

Penilaian yang dilakukan melalui forum group discussion (FGD), panduan penilaian, dan kuesioner yang dilakukan secara paralel dari 7-19 Oktober 2013, kemudian dirumuskan dalam rapat pleno Tim Penilai (examiner) dan Tim Steering Committee PLN Bersih, maka memutuskan PLN Distribui Jawa Barat dan Banten merupakan unit yang benar-benar mengimplementasikan PLN Bersih dengan nilai 2,9 (grade 3-dengan 0 adalah implementasi rendah dan 3 adalah implementasi tinggi). Nilai ini merupakan akumulasi dari implementasi PLN Bersih berdasarkan empat pilar, dimana DJBB meraih 0,6 untuk Partisipasi, 1,13 untuk Integritas, 0,6 untuk Transparansi, dan 0,6 untuk Akuntabilitas (skor 0 – 3).

Hasil penilaian itu diprersentasikan oleh Deputi Sekretaris Jendral TII Dedi Haryadi pada acara pemberian penghargaan dalam rangka Hari Listrik Nasional (HLN) 28 Oktober lalu di PLN Pusat Jakarta. Program PLN Bersih ini memang disupervisi dan diawasi oleh TII.

Secara umum implementasi PLN Bersih pada unit PLN dalam tahapan “sedang menyusun implementasi” dan “ada implementasi”. Indikasi dari simpulan ini adalah secara umum tidak ada unit yang memiliki skor di bawah 1,5 (skala 0-3). Skor terendah dalam hal implementasi PLN adalah 1,7. Dengan pembulatan angka ini dapat masuk dalam kategori “sedang menyusun implementasi. Unit yang memiliki posisi relatif lebih tinggi dari unit lainnya, karena unit tersebut telah lebih dulu mengimplementasikan inisiatif dalam PITA (partisipasi, integritas, transparansi dan akuntabilitas).

Unit yang memiliki skor tinggi, lanjutnya, merupakan unit yang mengimplementasikan masing-masing pilar PITA secara bersamaan. Sementara, unit yang memiliki skor rendah implementasi masing-masing pilar PITA tidak dilakukan secara bersamaan. Hal ini mengakibatkan beberapa unit memiliki skor bagus di pilar tertentu, namun unit tersebut memiliki skor kurang bagus di pilar lainnya.

Selain implemetasi PLN Bersih, tim penilai PLN Bersih pun melakukan assesment terkait risiko integritas dan integritas pengadaan. Dalam hal risiko integritas, secara umum proses pengadaan PLN relatif bersih, namun potensi korupsi masih dapat terjadi akibat adanya intervensi internal maupun eksternal. Menurut survei yang dilakukan terhadap vendor, pengadaan PLN dinilai bersih, namun korupsi masih berpotensi terjadi akibat adanyabeberapa faktor, seperti pengaruh internal menempati urutan tertinggi sebesar 33%, perlakuan istimewa 25%, pengaruh eksternal 25%, uang terima kasih 19%, hadiah 18%, suap pasif 17%, uang pelicin 15%, dan suap aktif 12 %.

Perlu digarisbawahi bahwa assesment ini bukanlah audit. Assesment ini lebih mengarah ke “pemotretan” aktivitas yang telah dilakukan oleh unit-unit pilot project PLN Bersih dalam penerapan program PLN Bersih di unit setempat bersama-sama dengan para mitra kerja di lingkungan kerja masing-masing. Dari pengukuran ini akan dijadikan data awal (base line) yang mencerminkan input, intervensi, dan output program PLN Bersih. Juga untuk melihat terjadinya gap antara konsep dengan realisasi penerapan program PLN Bersih sebagai bahan evaluasi dan perbaikan program ini.

Dengan penilaian PLN Bersih ini, menunjukkan implementasi PLN Bersih di 13 pilot project ada perkembangan yang menggembirakan. Mayoritas unit telah merencanakan, mengorganisasi, dan melaksanakan PLN Bersih dengan baik, namun implementasi perlu pengawasan secara ketat dan reguler.

Sumber :plnbersih.com