Peluang untuk mulai mengadakan wacana bebas mengenai peristiwa di malam 1 Oktober 1965 telah mengakibatkan perubahan hakiki dalam negara dan pada bangsa Indonesia. Peluang ini dimulai saat kelengseran Presiden Suharto, 1998. Momen tersebut menandai bagaimana selama 32 tahun, Suharto dan Orde Baru menjadikan satu-satunya kambing hitam dari kejadian yang kemudian dikenal sebagai Gerakan 30 September (G30S), adalah PKI dan/ atau kelompok komunis.

Peristiwa G30S bagaimanapun juga menorehkan luka bagi bangsa ini, bahkan mungkin sampai hari ini. Ratusan ribu bahkan jutaan orang menjadi korban dalam peristiwa ini. Lalu, sebagai anak muda yang kritis, apakah kita cukup hanya dengan merasakan empati dan diam-diam merasakan luka itu? Tentu, banyak hal yang bisa dilakukan oleh generasi muda menyikapi peristiwa sejarah bangsa kita. Dalam menjawab pertanyaan dan kritisisme, SPEAK kembali mengadakan SPEAKForum untuk ketiga-kalinya. Diadakan di pendopo kantor TI-Indonesia (25/9), SPEAK mengundang dua tokoh muda sebagai narasumber dalam diskusi yang dihadiri tidak kurang dari 20 anak muda ini.

Adalah Haris Azhar, Koordinator KontraS (Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan) dan Bonnie Triyana (Redaktur Majalah Historia Online) yang berkenan hadir berbagi wacana, perspektif, dan pengetahuannya terkait peristiwa besar sejarah G30S.

“Sebagai salah satu lembaga yang bergerak di bidang advokasi anti-kekerasan, kami meyakini telah terjadi kekerasan dalam peristiwa G30S,” ungkap Haris dalam paparannya. “Genosida mungkin kata yang terlalu kompleks. Tapi ini betul-betul pembantaian massal. Bahkan kedua terbesar setelah Nazi,” imbuhnya.

Kontras merupakan salah satu lembaga advokasi anti-kekerasan yang menyuarakan hak-hak dan suara korban. Setiap hari Kamis, di setiap minggunya, KontraS mengadakan aksi damai bertajuk “Kamisan”. Upaya ini dilakukan untuk menuntut pertanggungjawaban negara atas pelanggaran HAM yang terjadi pada peristiwa G30S. Pelanggaran HAM yang dialami oleh para korban, yang sebagian besar berhubungan langsung/ tidak dengan PKI, adalah bentuk diskriminasi, ditutupnya kesempatan untuk bekerja, memperoleh pendidikan yang layak, dan lain sebagainya.

“Saya yakin, jika ada anak muda yang mengadakan diskusi seperti ini, itu sama artinya masih ada optimisme lah”, papar Bonnie. “Dulu saat saya menulis skripsi saya tentang G30S, saya dianggap ‘aneh’, bahkan disarankan untuk tidak diteruskan. Tapi, saya tetap terus,” tambahnya. Ya, menjadi komunis hari-hari ini memang tidak terdengar seksi, tapi hal itu bisa jadi berbeda jika dijalani saat transisi Orba dan masa tersebut berlangsung.

Dinamika diskusi berjalan sangat menarik. Antusiasme peserta yang sebagian besar mahasiswa ini cukup besar, tidak hanya mengetahui sejarah peristiwa namun juga mengkritisi mengapa peristiwa ini harusnya diungkap sesuai fakta dan kebenaran yang ada. Sehingga tanggungjawab atas pelanggaran HAM yang terjadi bisa diperoleh korban.

“Kakek-nenek saya adalah korban dari peristiwa G30S. Kakek saya Lekra dan nenek saya salah satu anggota Gerwani”, tutur salah satu peserta dari Forum for Indonesia. “Saat masih di Yogya, saya juga sempat mengalami diskriminasi. Salah satu ajang siswa teladan belum berhasil saya menangkan, hanya karena saya adalah cucu dari orang-orang PKI,” tambahnya. Sepersekian detik ambience diskusi berubah. Ada keresahan dan kemarahan. Menanggapi hal tersebut, Bonnie mengutarakan pendapatnya, “Hakikat sejarah adalah tidak ada yang objektif. Maka, apa yang dilakukan kawan-kawan sekarang di sini adalah bentuk pengupayaan mendekati kebenaran,”.

Upaya SPEAK untuk menjembatani historic gap antar-generasi patut diapresiasi. Melalui broadcast social media seperti Twitter, clubSPEAK juga menghadirkan timeline dari kegiatan ini. Ingin tahu lebih lanjut? Silahkan simak dan follow: @ClubSPEAK. [LT]