Sesi berbagi pengalaman dan diskusi santai mewarnai ruang pendopo TI-Indonesia, Jumat 22 Juli 2011 lalu. Adalah media creative session yang menjadi agenda setengah hari pada Jumat cerah itu. Mengundang Gadis Ranty, staf Kementerian Luar Negeri RI untuk Direktorat Diplomasi Publik sebagai pembicara pertama tandem dengan Iriel Parmato Henry, Content and Creative Manager untuk Multiply sebagai pembicara kedua. Lewat paparan lugas dan tegas a la dosen killer di kampus, Gadis mempresentasikan catatannya. Social Media and Its Power; begitu Gadis memberikan judul untuk slide di hadapan peserta. Sesi pertama –terkesan, berjalan lambat. Mengingat hakikat hari Jumat yang dianggap hari macet nasional menjadi tantangan dimulainya kegiatan pelatihan. Namun, keterlambatan dimulainya kegiatan tidak menyurutkan semangat peserta yang hadir.

You are what you shared”, papar Gadis menjelaskan maklumat ilmu komunikasi yang telah dipelajarinya. Kencangnya serangan sosial media di kalangan masyarakat, khususnya anak muda, memaksa –mau tidak mau, suka tidak suka, untuk kita melek teknologi dan tidak bisa tidak mengikuti arus kegilaan sebuah brand. Facebook, Twitter, Plurk, Tumblr, menjadi beberapa medium sahih dari gencarnya gempuran itu. Namun, first thing and foremost yang perlu diputuskan dan selalu diingat adalah: kita tidak boleh kehilangan identitas diri. Maka, Gadis pun memulainya dengan pertanyaan kepada peserta: “Who are you? What are you? And what do you do?”. Gadis dengan gaya bahasanya yang santai namun tegas, memberikan perspektif kepada para peserta tentang passion diri, pilihan dan identitas. Ketiga hal itu kemudian dikemas untuk menjawab pertanyaan tersebut. Paparan Gadis selanjutnya kemudian lebih menitikberatkan pada tersebarnya pilihan medium berkomunikasi untuk menyuarakan sebuah ide perubahan. Salah satunya sosial media.

SPEAK, Media and Communication adalah judul presentasi narasumber kedua, Iriel Parmato. Selama kurang-lebih satu setengah jam, Iriel berbagi ide dan pengalamannya sebagai media creative specialist. Beberapa video pun diputar untuk memancing komentar peserta. Video pertama adalah produk garapan Iriel. Video testimoni seorang Marketing Manager sebuah brand produk pasta gigi ternama mengenai penting dan bergunanya sosial media dalam mempromosikan produk tersebut. Selain video testimony produk pasta gigi yang sudah lama menguasai pasar toiletries di Indonesia tersebut diputar, muncul testimoni Iwet Ramadhan yang adalah pemilik brand produk pakaian unik TikShirt yang baru saja beredar di pasaran. Menurut Iwet, sosial media bak dewa penyelamat yang memberikan keuntungan berlipat-ganda dalam promosi produknya. Simpulan dari video tersebut adalah sosial media memegang peranan penting dan besar bagi sebuah brand, terlepas brand tersebut sudah lama mengudara atau tidak.

Knowing your product well”, kata-kata tersebut diucapkan Iriel secara repetitif. Mengingatkan kepada peserta  bahwa, SPEAK sebagai sebuah brand perlu diketahui dan dikenal dulu dengan sangat baik oleh si pemilik brand itu sendiri. Siapa yang menjadi pemiliknya? Jelas, para Duta Anti-Korupsi, SPEAK Activist. “Posisikanlah diri teman-teman seperti audiens, seperti pendengar, seperti penonton, seperti mereka yang sedang kita sasar”, jelas Iriel lebih lanjut. Jika kita sebagai pemilik brand saja tidak mengenal produk kita, bagaimana mungkin produk ini dikenal luas oleh masyarakat. Tantangan lainnya adalah SPEAK tidak hanya sebuah brand pakai-buang seperti produk konsumerisme, tetapi produk ideologis. Maka, memerlukan strategi komunikasi unik, berbeda dan masif. Presentasi Iriel menjadi menarik dengan gaya tutur Iriel yang blak-blakan, menyentil dan straight to the point. Iriel pun memungkas presentasi dengan video inspiratif tentang perkembangan sosial media. Bagaimana dalam video tersebut digambarkan efek masif Facebook yang telah diikuti lebih dari 200juta akun dan dianalogikan sebagai negara keempat terpadat di dunia. [LT]