"Maling-maling kecil dihakimi, maling-maling besar dilindungi". Sepenggal lirik lagu Hukum Rimba milik grup band punk, Marjinal bergaung di halaman gedung Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Jakarta, Jumat (14/7) malam. Ratusan aktivis dan pegiat antikorupsi, seniman, agamawan, mahasiswa, pelajar, dan sejumlah elemen masyarakat lainnya yang hadir turut bernyanyi. Sebagian lainnya mengangguk menyetujui lirik lagu tersebut yang seolah menggambarkan kondisi Indonesia saat ini.

Di tengah upaya menuntaskan kasus-kasus korupsi besar, KPK sedang menghadapi serangan bertubi-tubi yang dilancarkan DPR melalui Pansus Hak Angket. Padahal, sejak awal terbentuk, angket terhadap KPK menghadapi penolakan dari para akademisi, tokoh masyarakat, ormas, LSM, dan pegiat antikorupsi.

Perlawanan tersebut tak hanya dilakukan dengan pernyataan sikap ataupun melalui jalur hukum dengan menggugat keabsahan angket ini ke Mahkamah Konstitusi (MK). Perlawanan ini juga dilakukan melalui aksi simpatik di halaman gedung KPK.

Selain Marjinal yang membawakan tiga buah lagu, aksi simpatik bertajuk "Poetry for Integrity, Jumat Keramat Melawan Angket" ini juga menampilkan pembacaan puisi oleh sejumlah tokoh, seperti sosiolog Imam Prasodjo, mantan Wakil Ketua KPK, Bambang Widjojanto serta putri Presiden ke-4 RI Abdurrachman Wahid, Yenny Wahid. Puisi-puisi yang dibacakan menggambarkan penolakan terhadap angket yang menghambat pemberantasan korupsi yang masih merajalela di Indonesia.

"Situasi seperti saat ini, di mana kekuatan-kekuatan politik berbalik melemahkan KPK sebenarnya sudah sejak awal diprediksi oleh mereka yang berjuang melawan korupsi. Dan oleh karenanya, saya pikir rakyat yang selama ini merindukan Indonesia yang bebas dari korupsi, pasti akan memberikan reaksi keras terhadap upaya pelemahan KPK," tegas Sekjen Transparency International Indonesia (TII), Dadang Trisasongko.

Tak hanya pembacaan puisi, di halaman gedung KPK juga terdapat galeri kartun dari Persatuan Kartunis Indonesia (Pakarti) dan karya seni mural dari komunitas Youth Rebel yang menyindir pembentukan Pansus Angket KPK.

Di tengah acara, masyarakat sipil dan aktivis dari berbagai lembaga menggelar doa bersama sambil menyalakan lilin. Doa dipimpin secara bergantian oleh tokoh agama Islam, Kristen, Hindu, Buddha, Katolik, dan Konghucu.

Wakil Ketua KPK, Saut Situmorang turut mengisi aksi simpatik ini dengan menampilkan keterampilannya memainkan saksofon. Penampilan Saut yang membawakan lagu Reason milik grup band Hoobastank cukup menarik perhatian penonton.

"Di dalam musik itu ada doa. Doa kita bersama adalah Indonesia bersih dari korupsi," ungkap Saut.

Sumber :Beritasatu