FILM dapat menjadi sarana efektif untuk menumbuhkan generasi baru Indonesia yang bersikap antikorupsi. Melalui media film, lembaga Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) memulai langkah preventif jangka panjang untuk mencegah kelanjutan korupsi di masyarakat.

Sejak 2013, KPK bersama Management System International (MSI) menggagas Anti Corruption Film Festival (ACFFest). Ajang itu memberikan ruang pada masyarakat dan sineas film di seluruh Indonesia untuk mengikutsertakan karya film mereka.

Dampak kegiatan itu memang tidak instan. Tidak seperti dampak yang timbul ketika KPK melakukan represi terhadap kasus korupsi. Namun yang menjadi tujuan utama adalah efek jangka panjang, yaitu menumbuhkan kesadaran dan sikap antikorupsi di masyarakat.

Misalnya, film Kita Versus Korupsi yang merupakan produksi kerja sama antara KPK, US AID, Transparency International Indonesia, MSI, dan Cangkir Kopi. Paket film tersebut meliputi empat film pendek. Setiap film pendek itu digarap oleh sutradara berbeda dan diperankan oleh aktor yang berbeda.

Keempat film itu adalah Rumah Perkara, Aku padamu, Selamat Siang Risa!, Psstt… Jangan Bilang Siapasiapa. Keempat film itu mengisahkan bahwa budaya korup, disadari atau tidak, telah melanda kehidupan seharihari dari keluarga, sekolah, sampai masyarakat. Psssttt… Jangan Bilang Siapa-siapa merupakan salah satu film dalam omnibus Kita Versus Korupsi yang dirilis pada 2012.

Film itu merupakan kampanye KPK dengan beberapa pihak lain. Psssttt… Jangan Bilang Siapa-siapa disutradarai Chairun Nissa dan dibintangi Siska Selvi Dawsen, Nasha Abigail, Alexandra Natasha, dan Ence Bagus. Kala itu, Teten Masduki yang menjabat sekretaris jenderal Transparency International (TI) Indonesia mengemukakan bahwa film Kita Versus Korupsi tidak menyajikan kisah-kisah investigatif dari kasus megakorupsi di negeri ini.
SM/ Viddsee Film ”Pssst... Jangan Bilang Siapa-siapa”

”Namun mengangkat kondisi sistem nilai yang hidup dalam kehidupan sehari-hari kita,” ujarnya. Dia menyatakan selama nilainilai keadilan, kejujuran, kesederhanaan, rasa empati kepada sesama tersingkirkan dari kehidupan masyarakat, berapa pun besar program antikorupsi tidak akan banyak berhasil.

”Karena itu, film ini menjadi cermin bagi penonton untuk melihat potret diri, lalu mendiskusikan secara kritis. Jadi korupsi tidak lagi kita anggap sebagai perilaku yang bisa diterima masyarakat,” tutur dia. Kegiatan ACFFest merupakan salah satu bentuk kampanye antikorupsi yang dikemas dalam budaya pop sehingga lebih mudah diterima masyarakat.

Penonton diajak melangkah di rel kejujuran dengan menyunggi etika. Keberadaan para tokoh protagonis diposisikan sebagai yang tersisih, pasif, bahkan hampir keok di hadapan wajah korup. Dalam sebuah pidato kebudayaan di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, 16 April 1977, Mochtar Lubis menguraikan sedikitnya enam ciri utama manusia Indonesia.

Pokok ceramah yang mengundang beragam tanggapan itu penting disimak bertalian dengan kerentanan sikap hidup bangsa kita dari jerat budaya korupsi. Dari keenam ciri, empat sangat relevan diungkapkan untuk mengupas gambaran sejumlah tokoh dalam film antikorupsi. Pertama, munafik atau hipokrit.

Kecenderungan itu berakar pada sistem kolonial dan feodal masa lalu yang menebas inisiatif rakyat. Dampak buruk yang merugikan diri sendiri bila berpendapat secara jujur membuat masyarakat kerap berpura-pura lain di muka lain pula di belakang. Kedua, segan dan enggan bertanggung jawab.

Manusia Indonesia acap berkilah dengan ucapan, ”Bukan saya.” Hierarki dalam tatanan organisasional adalah lingkungan produktif yang melahirkan sikap itu. Jika seorang kepala lembaga mengetahui usahanya kolaps, dia tidak merasa bertanggung jawab. Alih-alih dia akan berkata, ”Bukan saya.” Lalu, melimpahkan kesalahan ke pihak lain di bawahnya. Ketiga, sikap dan perilaku feodal.

Masa penjajahan boleh jadi sudah berakhir di bumi Nusantara. Namun bibit yang tersebar dan disisakan berkecambah dalam rupa tindak-tanduk feodal baru, yang kala itu dicatat Lubis sebagai slogan asal bapak senang (ABS). Sudah penguasa tak mudah menerima kritik, pihak lain juga kelu dan kaku melontarkan sanggahan. Keempat, berwatak lemah. Karakteristik itu sulit dibantah.

Ia melekat erat pada manusia Indonesia. Di samping ketiga ciri sebelumnya, masyarakat kita mudah menyurutkan keyakinan ketimbang mempertahankan, dan melepas sebuah prinsip pandangan atau nilai hidup supaya dapat bertahan. Selain pelacuran intelektual, sikap ABS adalah contohnya. (Prajtna Lydiasari-44)

Sumber :Suara Merdeka